• This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Minggu, 10 September 2017

Eblek Jaranan

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam pementasan keseninan reog ada beberapa tarian pengiringnya, salah satunya yaitu adanya penari wanita yang menggunakan eblek Jaran Kepang.

Dalam kesenian reog modern, pementasan dibuka dengan  dua tarian pembuka. Untuk yang pertama bukanlah tarian Jathilan yang menggunakan Eblek Jaranan, melainkan akan diperagakan oleh enam sampai delapan pria gagah yang menggunakan pakaian serba hitam.

Setelah tarian ini selesai barulah sang penari Jathil unjuk gigi lengkap dengan peralatan pentasnya, salah satunya ya eblek jaranan pentas Reog Ponorogo ini. Ini sebagai sebuah wujud dimana para penari wanita yang dahulunya diperankan laki-laki menunggangi kuda untuk mengawal sang prabu Klono Sewandono.

Sekilas tarian yang menggunakan eblek jaranan pentas Reog ini memang hampir sama dengan tari kuda lumping. Namun faktanya tidak, tarian ini sendiri memiliki nama jaran kepang atau tari Jathilan. Selain digunakan dalam pementasan reog, eblek jaranan jathil ini juga biasa digunakan sebagai hiasan dinding bersamaan dengan topeng reog ganongan.

Bagi anda para pementas tarian jathil atau masyarakat umum yang membutuhkan eblek jaranan pentas Reog Ponorogo, kami bisa melayani pembelian secara online untuk anda.

Nama     : Eblek Jaran Kepang / Jathil
Harga  : Rp. 50.000,
Sms  : 085335918791
Watsapp  : 08564634360
Tertarik dengan Jaran kepang yang kami jual? jangan sungkan untuk menghubungi admin kami melalui kontak service diatas. Temukan produk terbaik dan dapatkan layanan profesional kami.

Wedang Cemoe-Nak

Pernah dengar Cemoe ?. Kalau anda tinggal di wilayah Ponorogo, Madiun dan sekitarnya tentu pernah dengar. Tetapi mungkin nama “Cemoe” agak asing ditelinga anda yang bukan asli penduduk Ponorogo atau Madiun. Yupz.., Minuman hangat yang satu ini hanya dapat ditemui di wilayah Ponorogo, Madiun dan sekitarnya. Di daerah lain Cemoe mungkin agak mirip dengan Wedang Ronde, Bajigur atau Sekoteng.
 
Cemoe atau Wedang Cemoe adalah sejenis minuman hangat yang berbahan utama roti tawar yang dipotong-potong, kacang goreng, bawang goreng, santan, Jahe dan dikasih daun pandan. Sebagian Cemoe ada yang ditambahkan susu kental manis, mutiara dan kolang-kaling.

Hemm…, dah kebayang rasanya kan ?. Hangat gurih manis dengan aroma yang harum, sangat cocok untuk menghangatkan tubuh saat malam. Makanya minuman ini menjadi primadona bagi banyak orang yang suka menikmati suasana malam. Di Ponorogo anda dapat dengan mudah menjumpai warung yang jual wedang cemoe.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati minuman yang satu ini bila anda sedang berkunjung di Ponorogo..

Blangkon Ponorogo



Mengenali blangkon model Ponorogo
Blangkon menurut wikipedia adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Menurut wujudnya, blangkon dibagi menjadi 4: blangkon Ngayogyakarta, blangkon Surakarta, blangkon Kedu, dan Blangkon Banyumasan. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon.


Bicara tentang Blangkon, beberapa waktu lalu kami mendapat pesanan dari salah satu member Setenpo di negara seberang, yaitu BLANGKON Model PONOROGO
Blangkon Model Ponorogo mempunyai khas tersendiri yaitu berwarna Hitam ada batiknya putih memiliki tonjolan pada bagian belakang kepala, hampir menyerupai gelung rambut pada wanita berjilbab saat ini, dan mempunyai sliwir yang menjuntai panjang kebelakang. Untuk info harga blangkon model Ponorogo saat ini bervariasi, dari mulai Rp, 30.000,-, 35.000,-, 40.000,-, 45.000,-.

Baju Hitam Penadhon





Penadon (Pakaian Khas Warok)
Identitas Warok biasanya hanya dikenal pada pakaiannya yang serba hitam saja. Pakaian ini adalah pakaian asli daerah Ponorogo. Seorang disebut Warok jika ia sudah besar sekali wibawanya dan besar sekali kedudukannya dalam masyarakat.

Busana warok yang dikenakan memepunyai makna tersendiri diantaranya ialah baju oblong dan clana warna hitam tersebut melambangkan sikap diam dan pakaian warna merah didalam baju melambangkan sikap berani. Perpaduan warna merah dan hitam mempunyai makna simbolis bahwa masyarakat ponorogo mempunyai sikap, tetapi jika diganggu tidak sedikut ada persaan takut untuk melawannya. . Dibalik pakaian adat warok Ponorogo mengandung makna filosofis yang tinggi terkait dengan sistim kepercayaan (Religi), Budaya, dan sosial. 

Hal ini merujuk pada Konsepsi tentang Warok. Almarhum Kasni Gunopati atau yang dikenal dengan Mbah Wo Kucing menyatakan bahwa warok berasal dari kata wewarah (wongkang sugih wewarah). Jadi warok adalah orang yang mampu memberikan petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup dan kehidupan yang baik. Warok,lanjutnya, adalah orang yang memiliki tekad suci, siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa : Warok adalah orang yang telah sempurna dalam hidup dan kemudian lahir maupun batin. 

Baju Penadhon ini banyak dijadikan oleh-oleh oleh para pendatang karena memang baju ini sangat mencerminkan ke-khasan kota Reyog Ponorogo. Biasanya dijual sekitar Rp. 50.000,- hingga Rp. 150.000,- tergantung ukuran dan bahan yang digunakan.

Topeng Bujang Ganong


Bujangganong, memang adalah julukan bagi mereka, si penari topeng yg menggunakan topeng Ganongan dalam kesenian Reyog Ponorogo. Topeng ganongan itu sendiri memang sangat banyak model serta gaya penataan rambut juga bentuknya. Akan tetapi, dari sekian banyak model tersebut kesemuanya cenderung berhidung besar panjang, bergigi putih, bermata Mlotot, serta berambut lebat.. gondrong.. kenapa Begitu ya?

Ya.. karena memang itulah ciri-ciri atau spesifikasi topeng ganong Ponorogo. Kalau ada topeng yg gak sesuai dengan ciri-ciri diatas terus mengaku ngaku.. kalau topeng tersebut topeng bujangganong Ponorogo.. wah perlu diragukan kang.. kebenarannya.. hehe..

Nah, selain digunakan untuk pagelaran saat Festifal Reyog, topeng ganongan ini juga sering digunakan untuk oleh-oleh khas Kota Ponorogo bagi para pendatang untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Harga yang dibandrol juga lumayan murah jika dilihat dari segi pembuatan yang amat sulit, berkisar antara Rp. 150.000,- sampai Rp.500.000,- tergantung tingkat kesulitan dalam proses pembuatan.

Coban Lawe

Siapa sangka bahwa kota Ponorogo yang terkenal dengan kesenian Reog nya, ternyata juga menyimpan banyak keindahan alam. Mungkin bagi para masyarakat Ponorogo, khususnya warga Pudak Pulung sudah tidak asing dengan wisata Air Terjun Coban Lawe. Yap, air terjun Coban Lawe merupakan salah satu destinasi wisata alam yang menyuguhkan pesona keindahan yang menakjubkan. Wisata alam ini tepatnya terletak di Ds. Krisik, Kec. Pudak, Kab. Ponorogo.

Air terjun yang populer di Ponorogo ini bisa ditempuh dengan jarak sekitar 33 km menuju arah timur dari pusat kota. Karena letaknya yang terpencil yakni di bawah lereng Gunung Wilis, menjadikan lokasi air terjun ini belum banyak diketahui masyarakat luas. 

Meskipun demikian, bagi anda para pecinta traveling atau yang hobi mendaki, maka destinasi wisata alam di Ponorogo yang satu ini wajib untuk anda kunjungi. Sekedar informasi, bagi anda yang berkunjung di air terjun Coban Lawe ini juga bisa sekalian mampir di lokasi lain yang ada di kecamatan Pudak. Misalnya saja di Puncak Kayangan, Tanah Goyang, Goa Maria Fatima dan masih banyak lokasi wisata lainnya.

Pesona Wisata Air Terjun Coban Lawe

Wisata Coban Lawe terletak di kawasan perhutanan yang masih sangat asri. Para pengunjung akan merasa terkagum-kagum dengan keindahan pemandangan hutan yang akan anda dapatkan selama perjalanan menuju lokasi wisata.

Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan indah berupa hamparan perkebunan subur sebelum menuju ke tengah hutan. Berbagai tanaman seperti sayur mayur dan juga kopi turut menghiasi perkebunan yang nampak luas tersebut. Pemandangan yang begitu mempesona ini juga diiringi dengan udara segar yang dibutuhkan oleh tubuh.Perlu diketahui bahwa air terjun Coban Lawe ini terdiri atas dua bagian. Air terjun Coban Lawe 1 dan juga Air Terjun Coban Lawe 2. 

Para masyarakat sekitar sering menyebut air terjun Coban Lawe 2 sebagai air terjun Coban Lawe 50 (Seket). Bagi pengunjung yang sudah merasa cukup menikmati keindahan yang disuguhkan oleh air terjun Coban Lawe 1, maka bisa langsung naik ke lokasi air terjun Coban Lawe 2. Meskipun terletak di tempat yang lebih jauh dan lebih tinggi, namun pegunjung tidak akan menyesal karena pemandangan di Coban Lawe 2 memang lebih menakjubkan.

Jam Buka dan Tiket Masuk Wisata Air Terjun Coban Lawe

Wisata air terjun Coban Lawe kota Ponorogo ini masih asri dan belum terjamah oleh masyarakat luas. Jadi lokasi wisata ini terbuka untuk umum setiap harinya. Untuk memasuki kawasan wisata ini tidak dipungut biaya sama sekali. Pengunjung hanya cukup mempersiapkan uang kurang dari Rp 5.000,00 untuk membayar jasa parkir di rumah warga.

 Tempat wisata alam yang menakjubkan ini ada di kota Ponorogo  !! (o_0) Yuk rame rame ke sini buat liburan bareng keluarga cocok looh !!

Gunung Bhayangkaki

Informasi Umum

Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo adalah salah satu tempat wisata yang berada di Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo adalah tempat wisata yang ramai dengan wisatawan pada hari biasa maupun hari liburan. Tempat ini sangat indah dan bisa memberikan sensasi yang berbeda dengan aktivitas kita sehari hari. Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo memiliki pesona keindahan yang sangat menarik untuk dikunjungi. Sangat di sayangkan jika anda berada di kota Ponorogo tidak mengunjungi wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo yang mempunyai keindahan yang tiada duanya tersebut.
Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo sangat cocok untuk mengisi kegiatan liburan anda, apalagi saat liburan panjang seperti libur nasional, ataupun hari ibur lainnya.  Keindahan wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo ini sangatlah baik bagi anda semua yang berada di dekat atau di kejauhan untuk merapat mengunjungi tempat wisata Gunung Bayangkaki di kota Ponorogo.

Lokasi

Dimana lokasi Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo ? seperti yang tertulis di atas lokasi terletak di Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Tetapi jika anda masih bingung di mana lokasi atau letak Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo saya sarankan anda mencari dengan mengetik Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo di search google maps saja. Di Google maps sudah tertandai dimana lokasi yang anda cari tersebut.

Daya Tarik

Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo merupakan tempat wisata yang harus anda kunjungi karena pesona keindahannya tidak ada duanya. Penduduk lokal daerah Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo juga sangat ramah tamah terhadap wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota Ponorogo juga terkenal akan Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo  yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Bayangkaki adalah gunung yang tidak aktif  yang memiliki keindahan alam yang luar biasa sekaligus menyimpan mitos-mitos yang berbau mistis yang masih dipercaya hingga sekarang. Bayangkaki terdiri dari empat puncak. Urutan puncak jika dilihat dari sebelah utara adalah sebagai berikut, paling timur bernama puncak atau gunung Ijo, puncak yang kedua bernama puncak atau Gunung Tuo, yang nomor tiga bernama Puncak Tumpak atau Puncak Bayangkaki kemudian yang ujung barat dinamakan puncak atau gunung Gentong.

Fasilitas

Wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo bisa dibilang sebuah wisata pegunungan yang memiliki beberapa akan fasilitas minim yang disediakan warga sekitar di antaranya sebagai berikut :

- Area Parkir kendaraan

- Mushola

- Kamar mandi / MCK

-Tempat Istirahat

- dan masih ada lainya

Transportasi

Bagi wisatawan asal kota Ponorogo sudah tidak bingung lagi untuk mendatangi lokasi wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo. Akan tetapi bagaimana bagi wisatawan luar kota bahkan luar negeri, tentu mereka bingung dan takut kesasar. Tapi jangan khawatir bagi wisatawan luar kota Ponorogo saya mempunyai solusinya agar anda semua tidak kesasar.
Tentunya sarana transportasi apa yang anda pakaiuntuk berwisata ke Gunung Bayangkaki di Ponorogodengan memakai kendaraan pribadi seperti : Mobil atau motor pribadi. Anda bisa meminta panduan arah ke wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo di google maps yang terpasang di smartphone anda. Karena memakai kendaraan pribadi akan lebih menyenangkan dari pada memakai kendaraan umum.
Akan tetapi jika anda memakai kendaraan umum seperti : bis umum atau angkutan lainnya juga bukan masalah besar, pasalnya andabisa berhenti di terminal bus Desa Sawoo. Setelah itu melanjutkan dengan menggunakan ojek ataupun kendaraan pribadi anda menuju desa Temon lalu lanjut dengan pendakian hingga sampai di lokasi Wisata Gunung Bayangkaki tersebut. di Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia.

Saran dan Tips

Saran dan tips sebelum menuju ke tempat wisata Gunung Bayangkaki di Ponorogo, anda perlu mempersiapkan keperluan yang akan butuhkan seperti membawa bekal, air minum dan lainnya. Serta beberapa barang tambahan seperti  kamera karena anda pasti ingin mengabadikan moment bersama kelurga ataupun teman - teman anda. Jangan lupa bawa perlengkapan kesehatan (contohnya adalah sabun, tissue basah, obbt-obatan, antiseptik). Siapkanlah fisik dan kendaraan anda supaya liburan anda berjalan dengan lancar. Jaga kondisi diri anda dan selalu berhati - hati.
 
Nah, berikut tadi adalah ulasan mengenai Wisata Alam Gunung Bhayangkaki.. Wisata alam ini majur banget loh buat ngilangin stres dan semacamnya, jadi gak usah ragu-ragu buat dateng ke sini yaa.. apa lagi fasilitasnya udah lumayan memadai.. Yuk travelling !!

Gelar Budaya Tahunan Ponorogo

Sepanjang jalan aloon-aloon utara tepatnya seputaran paseban dan sepanjang jalan aloon-aloon Timur serta sepanjang jalan P.B.Jendral Sudirman hingga finish di jalan Suromenggolo dipadati ribuan pengunjung baik dari wilayah Ponorogo sendiri maupun dari daerah kabupaten lain yang ingin menyaksikan tradisi budaya dan seni yang digelar di kota yang kaya akan seni dan  budaya Ponorogo ini.

Gelar budaya ke IX yang banyak menampilkan atraksi atraksi seni dari berbagai daerah baik dari kabupaten Ponorogo sendiri maupun dari kabupaten lain diantaranya Madiun, Gunung Kidul dan lainnya. Secara resmi acara tersebut dibuka oleh bupati Ponorogo. H.Ipung Muchlissoni didampingi wakil bupati dan jajaran Forpimda kabupaten Ponorogo.

Dalam sambutannya Ipong menyampaikan bahwa gelar budaya ini merupakan rangkain dari peringatan hari jadi kabupaten Ponorogo, gelar budaya ini tidak sekedar hanya rangkaian tetapi menjadi wujud bahwa Ponorogo banyak memiliki potensi seni budaya, tidak hanya reog tetapi kita juga memiliki potensi seni budaya yang lain yang tidak kalah hebat seperti misalnya seni odrot yang model dan cara berpakaiannya mengingatkan pada zaman colonial Belanda. “Mudah mudahan dengan diselenggarakannya gelar budaya ini menambah semangat dan motifasi kawan kawan kita, teman teman kita seniman seniwati untuk terus berkarya dan berkesenian” tutur ipong mengakhiri sambutannya dan sekaligus membuka acara tersebut dengan ditandai penyerahan pecut Samandiman dari Klono Sewandono kepada beliau.

Inilah kota Ponorogo yang selalu menjadi perhatian dan keinginan masyarakat serta daerah lain untuk berkunjung dalam setiap tahunnya untuk menyaksikan agenda gelar dan apresiasi seni dan budaya.

Larung Sesaji di Telaga Ngebel

Ponorogo, kota Kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Timur. Disanalah terletak Ngebel sebuah kecamatan seluas 6 ribuan kilometer persegi. Letak persisnya ada di kaki Gunung Wilis. Perlu 1 1/2 jam berkendaraan dari pusat kota kabupaten. Inilah Telaga Ngebel. Tapi siapa sangka, telaga indah ini punya citra angker bagi warga setempat. Entah sudah berapa banyak orang yang tenggelama di sini. 
Pada malam 1 Suro yang dalam penanggalan Islam berarti 1 Muharam, ada sebuah ritual tahunan disebuah telaga yang dipercaya sering mengambil korban jiwa. Perjalanan berliku mengelilingi gunung dan bukit merupakan suasana yang menyegarkan. Indahnya alam di Ngebel semakin lengkap bila memandang telaganya.
 
Perahu rekreasi yang dulu pernah ada kerap tenggelam dan rusak saat melintasi telaga. Mau tidak mau, sejumlah peristiwa itu kian menguatkan angkernya sang telaga. Ingin tahu lebih lengkap, tim Teropong pun diantar Anam Ardiansyah, budayawan asal Ponorogo menemui Mbah Budiharjo yang tinggal di tepi telaga. Warga setempat menyapanya Mbah Budi. Ia adalah penduduk asli Ngebel yang dianggap tahu banyak mengenai mitos di Telaga Ngebel.
Konon, telaga ini muncul sebagai ekses kemarahan seorang pemuda miskin bernama Baru Klinting yang sering diejek penduduk sekitar yang arogan. Klinting sendiri sebetulnya manusia jelmaan seekor naga yang dibunuh warga setempat untuk konsumsi pesta rakyat.

Kedatangan Klinting yang seperti pengemis memicu kemarahan warga yang jijik melihat penampilan sang pemuda. Hanya Nyai Latung yang berbaik hati padanya. Sang pengemis pun marah dengan kesaktiannya ia menenggelamkan seluruh desa. Hanya Nyai Latung yang selamat. Air bah itulah yang kini dikenal sebagai Telaga Ngebel. Sejak itu pula, beragam bencana dan musibah terus-terusan mendera Ngebel. Dari mulai musim paceklik, gagal panen hingga wabah penyakit. Bencana yang selalu datang hingga kini. Ada 4 lokasi keramat yang sering diberi sesaji oleh masyarakat.

Diantaranya Gua Kumambang yang sekarang terendam air dan Gua Nyai Latung serta Bebong. Mitos Ngebel juga terkait dengan sesepuh Reog Ponorogo Raden Batoro Katong. Ketempat petilasannya inilah sekarang Kami menuju. Batoro Katong yang merupakan putra Raja Brawijaya ke V pernah bersembunyi dari kejaran musuh dan bertapa disalah satu gua yang ada di tepi telaga. Tempat Batoro Katong singgahpun jadi keramat. Bahkan bila salah satu warga Ngebel punya keinginan tertentu, ia melakukan tirakatan dan memberi sesaji di tempat ini. Bila malam Jumat tiba, Telaga Ngebel ramai oleh beragam sesaji dari mereka yang percaya. Puncaknya adalah saat malam 1 Suro. 

 Sagun Yang Tangguh

Pagi menjelang malam 1 Suro saat udara sedingin es, warga Ngebel mengadakan upacara qurban. Seekor kambing dengan bulu warna putih tidak putus melingkar bagian tengah tubuhnya atau yang disebut dengan kambing kedit akan disembelih. Darah kambing yang ditampung di kain putih ini dihanyutkan ke muara telaga. Sang kepala akan dilarung ke telaga nanti malam dan kaki kambing akan ditanam di empat tempat keramat. Sementara itu seorang warga bernama Sagun akan mengemban tugas penting. Ialah pembawa sesaji ke tengah telaga dalam ritual yang akan berlangsung nanti malam.Konon, tidak sembarang orang bisa membawa dan berenang menghayutkan sesaji ke tengah telaga.

Sagun sendiri mengaku tidak punya ilmu penangkal apapun selain mahir berenang. Lelaki tiga anak ini sehari-harinya bekerja sebagai pengawas pengairan di Ngebel. Bila ada orang yang tenggelam di Ngebel, biasanya Sagun yang diminta mencari. Tak heran ia terus dipercaya sebagai pembawa larungan sesaji.Malam 1 Suro, Kami pun kembali menuju telaga. Larung sesaji akan berlangsung malam ini. Disepanjang jalan menuju Telaga Ngebel, warga memasang obor sebagai penerangan jalan. Tradisi menyalakan obor saat malam 1 Suro ini sudah berlangsung lama. Menambah suasana mistis yang sudah terasa sejak pagi.

Akhirnya, Kami sampai di aula kecamatan tempat larung akan dimulai. Sekitar 40 sesepuh dan dukun Ngebel berkumpul di aula kecamatan. Mereka akan tirakatan. Dalam acara ini, sejenis matra Jawa kuno dibaca bersama-sama. Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan tradisi larung saji di Ngebel ini berlangsung. Yang jelas, sang telaga seperti tak jera meminta korban jiwa. Seusai tirakatan, saatnya menuju danau. Penerangan yang digunakan seadanya menambah aroma gaib di tempat ini. Apalagi udara sangat dingin. Tapi semua itu tidak menyurutkan langkah para sesepuh untuk mengelilingi danau menanam 4 potongan kaki di tempat-tempat keramat.

Dalam waktu hampir bersamaan, upacara larung sesaji segera dimulai. Potongan kepala kambing yang sudah dimasak dijadikan sesaji, dihanyutkan ke tengah telaga dibawa Sagun sang pembawa. Malam yang gelap membuat pandangan ke tengah telaga tidak begitu jelas. Semua yang hadir malam ini menanti kepulangan Sagun. Sagun memang tangguh, tak lama ia pun kembali. Padahal selain ada kisah angker yang membayangi, air di telaga sungguh amat dingin. Usai larung sesaji kembali diadakan doa bersama sebagai ungkapan syukur. Besok pagi akan digelar kembali larung sesaji, tapi dengan nuansa berbeda.

Mengapa Ada Larung Lagi
                                                                                  
Pagi hari 1 Suro atau 1 Muharam larungan kembali digelar. Tapi yang ini lebih sebagai modifikasi yang dilakukan pihak pemerintah daerah setempat. Dalam perkembangannya, larung sesaji yang penuh aroma gaib memang menjadi kontroversi di masyarakat Ponorogo. Sebagai kota santri yang hampir seluruh penduduknya pemeluk Islam, larung sesaji dianggap tidak relevan dengan ajaran Islam.

Tapi disisi lain, larung sesaji sudah jadi tradisi yang melekat pada warga setempat. Pemerintah Daerah setempat kemudian berinisiatif memodifikasinya dengan larung berisalah doa. Ini juga sebagai salah satu upaya Pemda untuk menarik wisatawan datang ke Ngebel. Karena Ngebel yang kaya potensi wisatanya ini jarang jadi tempat tujuan wisata. Kebanyakan sudah ketakutan dulu bila mendengar mitos Ngebel. Kalau melihat jumlah pengunjung yang datang menyaksikan larungan pag ini, upaya itu cukup berhasil. Dari sisi prosesi, larung risalah mirip dengan larung sesaji yang dilakukan malam hari.

Perbedaannya ada pada jenis sesaji dan doa. Pada larung risalah ini ukuran sesajinya jauh lebih besar. Terbuat dari beras dan bahan makanan lainnya.
Nuansanya pun tidak seperti tadi malam. Mungkin karena yang hadir saat ini jauh lebih banyak. Bahkan Kami bisa ikut naik ke atas perahu mengiringi sang pembawa sesaji.
Dalam larung risalah, sesajian ini diperuntukan bagi hewan penghuni telaga seperti ikan. Selain sesaji, ikut ditenggelamkan juga kota berisi doa keselamatan kedasar telaga. Tujuannya meminta keselamatan dan perlindungan Tuhan.
Seiring dengan tenggelamnya sesaji, usai sudah ritual tahunan di Ngebel. Tak lama lagi telaga ini akan kembali tenang, kembali ditakuti. Tapi mungkin, mitos ini jugalah yang melindungi keberadaan Telaga Ngebel yang keindahannya terjaga hingga kini.
 
Nah, makin dikulik makin menarik aja kota kita yang satu ini.. Jangan ragu-ragu lagi buat dateng dan eksplor langsung ke Ponorogo ya gengss...!

Festival Reyog Mini

Kali ini, tamu undangan dan masyarakat Ponorogo langsung disuguhi penampilan peserta Festival Reog Mini (FRM). Walaupun hanya dua penampil yang memeriahkan acara pembukaan HUT Ponorogo.

Uniknya juga ada warog bule yang diboyong oleh MTsN Sampung. Warok bule tersebut juga ikut menari pada FRM.

Tidak hanya penampilan peserta FRM. Warga Ponorogo yang rela melihat dari luar juga disuguhi pesta kembang api, pertanda di bukanya HUT Kabupaten Ponorogo ke 520.

Sementara, Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, mengatakan, dengan adanya FRM berarti ada regenerasi reog. "Setidaknya ada yang bisa meneruskan menari reog," katanya.

Apalagi, lanjut dia, melihat kesenian reog yang pernah dicaplok Malaysia. Ipong menuturkan setidaknya generasi sekarang sudah bisa.

"Mereka yang akan menggantikan yang sudah harus pensiun sebagai penari reog," pungkasnya. 

Menurut kalian gimana ? Makin menarik bukan pembahasan kita tentang Kota Reyog ini. Daripada makin penasaran langsung datang aja ke Kota Ponorogo...!

Grebeg Suro

PONOROGO, – Untuk pertama kalinya atau berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dua even terbesar kota Ponorogo, akan digabung menjadi satu even. Dua even pesta rakyat terakbar Ponorogo dimaksud, adalah Peringatan Hari Jadi dan Grebeg Suro. Sebagaimana rilis jadwal kegiatan dua even tersebut yang telah dikeluarksn dan diekspose Dinas Parawisata Ponorogo dua even itu akan dilaksanakan periode bulan September ini tanpa jeda antar kedua even.
“Memang betul, peringatan Hari Jadi dan Grebeg Suro tahun ini akan dijadikan satu di bulan September mendatang. Dimana tentunya nanti dari pembukaan hingga penutupan acara ya jadi satu juga,” terang Kepala Dinas Parawisata Ponorogo, drh. Sapto Djatmiko, MM, kepada beberapa awak media siang ini, Selasa, (11/07) di ruangannya.

Dilanjutkannya bahwa acara pembukaan dilaksanakan pada 12 September 2017. Sedang penutupan pada tanggal 21 September.
“Acara utama peringatan Hari Jadi, yaitu Festival Reyog Mini akan diselenggarakan selama tiga hari 12-14 September. Yang langsung dilanjutkan dengan Festival Nasional Reyog Ponorogo, esoknya selama lima hari. Dari tanggal 15 sampai 19 September. Jadi festival aksn berlangsung selama hampir sepuluh hari berturut turut di panggung utama,” Tambah Sapto Djatmiko.

Diterangkan juga, bahwa prnggabungan ini dimaksudkan untuk penghematan anggaran. Dimana jika biasanya anggaran kedua even tersebut mencapai,Rp. 2,3 Milyard atau tahun lalu Rp. 1,8 Milyar tahun ini dipangkas lagi tinggal sekitarRp. 1,3 Milyar saja.

Walau demikian, Sapto berharap agar kemeriahan pesta rakyat Ponorogo ini bisa tetap berjalan lancar dan spektakuker. Ramai dikunjungi masyarakat hingga wisatawan. Karena tetap disertai beberapa acara pendukung, seperti kirab pusaka, pemilihan Genduk Thole Ponorogo, hingga Larungan Risalah dan Doa dinTelaga Ngebel. Serta beberapa pamean dan lomba.

Es Dawet Jabung (nTabss)

DAWET sudah jamak dikenal masyarakat Indonesia. Namun, dawet jabung yang ada di Desa Jabung, Ponorogo ini memiliki daya tarik berbeda. Nama yang diambil dari asal desa, menjadi sorotan masyarakat dari berbagai kota, di sekitar Ponorogo. 
“Rasanya memang beda dengan dawet-dawet umumnya. Dan uniknya, nama minuman ini sesuai dengan desanya, Desa Jabung,” ungkap pembeli rombongan dari Tulungagung.

 Satu mangkok dawet jabung dijual dengan harga murah meriah, Rp 2.500. Kombinasi dawet jabung berupa, cendol (dari bahan dasar pati garut), ketan merah, gempol (dari tepung beras berbentuk bulat), bubur sum-sum (dari bahan tepung beras), ditambah potongan nangka sebagai ciri khas untuk mempercantik dan menambah citarasa dawet. 

Warung dawet jabung, setiap hari selalu ramai dengan pembeli dari berbagai kota. Mulai dari pembeli yang mampir karena kehausan, ada juga karena penasaran dengan citarasanya, dan pembeli yang ketagihan. Siapapun yang melakukan perjalanan dan kebetulan melewati kawasan dawet jabung, pasti melakukan ritual menjamu dahulu.

Tidak disangkal lagi, dawet jabung selain memberikan citarasa yang berbeda, serta harga yang ditawarkan ramah di kantong, tidak salah jika disebut minuman khas Ponorogo.
Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak berkunjung di warung dawet jabung. Salah satunya warung dawet jabung Bu Yati yang berokasi di depan pasar Gandu, Jabung, Ponorogo.
Nah, tunggu apalagi? Jika bingung liburan akhir pekan, sempatkan berkunjung ke Ponorogo karena nikmatnya dawet jabung siap melelehkan lidah.

Kamis, 07 September 2017

Gowa Lowo Sampung Ponorogo

Wisata Alam Goa Lowo Sampung Ponorogo

Wisata alam goa lowo merupakan sebuah tempat wisata goa. Dalam goa tersebut saat ini kondisinya gelap, belum ada penerangan. Mungkin akan lebih baik jika dipoles untuk dijadikan objek wisata yang lebih terurus. Apalagi letaknya berada di jalur alternatif Ponorogo-magetan, bahkan Jawa TImur-Jawa tengah.

Kabupaten Ponorogo Propinsi Jawa Timur merupakan salah satu tempat yang cukup kaya akan budaya dan pariwisata. Diantaranya ada pariwisata alam Ngebel, Pariwisata Air terjun, sampai wisata religi yang cukup menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Wisata alam Goa Lowo adalah salah satu diantara wisata alam di Ponorogo. Dan mengenai biaya masuk wisata tidak dibandrol biaya sepeserpun.

Letak goa lowo Sampung Ponorogo

Goa lowo terletak di Desa Sampung, Kecamatan Sampung kabupaten Ponorogo. Sekitar 7 menit dari pusat kecamatan Sampung. Goa lowo terletak di tengah hutan. Dari jalan raya sekitar 1 Kilo Meter menuju kearah barat.
Akses jalan menuju ke goa dari kota Ponorogo menuju kea rah barat. Kemudian sampai sumoroto ambil kanan menuju ke Sampung, tepatnya menuju ke arah kecamatan sampung. Ikuti rambu di tepi jalan. Ikuti terus sekitar 20 menit.

Telaga Ngebel

Suasana Sejuk Sangat Terasa Ketika Memasuki Area Telaga
Telaga Ngebel merupakan danau yang terbertuk dari Alam dan lokasi dan letak dari Telaga Ngebel adalah di kaki gunung wilis, lebih tepatnya di Desa Ngebel, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Telaga Ngebel ini tidak jauh dari pusat kota Ponorogo yaitu sekitar 30 Km. Letaknya yang strategis di kaki Gunung Wilis membuat Telaga Ngebel dipadati wisatawan ketika musim liburan.

Telaga Ngebel sendiri memiliki luas kurang lebih 5 Km dengan suhu rata-rata 20-26 Derajat Celcius. Telaga Ngebel merupakan salah satu obyek wisata andalan Pemkab Ponorogo. Pada moment tertentu sering diadakan acara larung sesaji di Telaga tersebut. Tujuan digelarnya upacara larung sesaji semata-mata demi kepentingan promosi pariwisata. Berkunjung ke telaga berhawa sejuk sekitar 20 derajat Celsius itu akan melewati jalan sedikit menanjak dan berkelok-kelok.

Pemandangan sepanjang perjalanan juga mengasyikkan. Anda harus berhati-hati karena lebar jalan yang relatif sempit dan di sisinya terdapat jurang. Memasuki pintu gerbang sekaligus pembelian tiket seharga Rp4.000 per orang suasana sejuk mulai terasa. Anda bisa memilih berkeliling telaga terlebih dahulu sebelum menikmati berbagai suguhan pendukung objek wisata itu. Setelah mengitari pinggiran telaga dengan ciri kedalaman airnya berbentuk V atau cekungan dalam di bagian tengah itu, Anda bisa beristirahat untuk menikmati pamandangan air yang tampak lebih indah jika mendapat sinar mentari.

Anda bisa berfoto-foto dengan latar belakang perpaduan air dan hijaunya tebing yang mengelilingi. Atau jika Anda beruntung bisa memandukan latar belakang dengan birunya awan. Puas berfoto, Anda bisa menikmati sajian kuliner dengan lauk ikan air tawar yang dihasilkan dari telaga tersebut. Terdapat puluhan warung berbagai jenis di pinggir telaga itu. Selain itu, Anda juga bisa menikmati wisata air dengan menaiki perahu bebek atau bus air di telaga tersebut. Berputar-putar di telaga itu dapat dilakukan bersama-sama karena dalam satu perahu bisa diisi beberapa orang. Tarif perahu per orang Rp5.000 atau bisa sewa atau satu perahu Rp50.000.

Objek wisata Telaga Ngebel ini tak lepas dari sebuah cerita yang di hubungkan dengan terbentuknya telaga ini, dalam cerita tersebut menyebutkan adanya seekor ular yang merupakan jelmaan Patih Bantaran Angin yang bernama Baru Klinting. Pada awalnya Patih Bantaran Angin sedang bermeditasi dengan berwujud seekor ular dan ada seorang yang tak sengaja membawa ular tersebut ke desa dan pada saat sampai di desa ular tersebut berubah menjadi seorang anak kecil. Singkat cerita, anak tersebut membuat sayembara dengan menancapkan sebuah batang lidi ke tanah, danan menyuruh warga desa mencabut batang tersebut namun tidak ada yang bisa mencabutnya dan yang bisa mencabut hanyalah anak kecil yang menancapkan tadi, dari lubang tersebut muncul sumber air yang menggenang hingga terbentuk menjadi sebuah Telaga. Masyarakat di sana menyebutnya sebagai danau atau Telaga Ngebel, yang berarti telaga dengan aroma menyengat.

Jika Anda berwisata ke Telaga Ngebel, tidak perlu repot bagi yang ingin menginap dan menikmati suasana malam di Telaga Ngebel apalagi bagi pengunjung yang berasal dari luar daerah, karena ada beberapa penginapan yang ada di sekitar Telaga Ngebel. Rute untuk menuju Wisata Telaga Ngebel sangat mudah di jangkau, walaupun ada angkutan umum yang mengarah kesana tapi alangkah enaknya jika kesana menggunakan Mobil/Motor Pribadi. Dari arah kota Ponorogo Anda bisa menuju arah timur dengan rute Kota Ponorogo, Jenangan, Ngebel dan kita bisa melihat Papan Penunjuk yang banyak terpasang di jalan raya dan tidak akan susah menuju Telaga Ngebel. Dan juga bisa dengan rute Madiun, Dolopo, Ngebel.

Nah, gimana ?? Daripada makin penasaran sama pernak perniknya Kota Reyog ini, mending langsung dateng aja ke Ponorogo, terus Cuzzz deh ke Telaga Ngebel...

Es Tellerrrr

PONOROGO – Sore hari ditambah dengan teriknya matahari menambah kering tenggorokan. Sejenak ingin menghilangkan dahaga, terdapat banyak penjual es teler di bumi Reog. Salah satunya es teler yang berada di Kecamatan Bungkal.
Siti (35) warga Kecamatan Balong yang berjualan es teler sejak tahun 2012 lalu mengaku memilih jualan karena sepi pesaing tetapi banyak peminat.
“Kalau jualan di sini ramai dan tidak ada saingan, baru saya saja yang jualan es teler,” jelasnya saat ditemui Cendana News di kedai miliknya, Sabtu (5/8/2017).
Es teler buatannya dibanderol dengan harga Rp4 ribu per porsi. Isiannya ada mutiara, pepaya, kacang tanah, degan dan gula merah sebagai penambah rasa manis dan ada serutan es di atasnya menambah segar es teler ini.
Ia berjualan mulai pukul 10.00 – 17.00 WIB. “Setiap hari saya bisa menjual 200 cup, alhamdulilah laris terus,” terangnya.
Berbeda dengan Siti yang berjualan dengan menggunakan mobil, penjual es teler satu ini memiliki outlet yang besar dan berada di pusat Kota Ponorogo, tepatnya sebelah timur alun-alun Ponorogo.
Agung (40) salah satu karyawan menjelaskan, kedai ini selalu ramai didatangi pembeli terutama saat siang hari. Mengingat posisi kedai berada di pusat kota memudahkan para wisatawan atau warga Ponorogo untuk mampir menikmati seporsi es teler.
“Di sini per porsi harganya Rp8 ribu, biasanya paling ramai saat libur atau ada acara Grebeg Suro di alun-alun,” tandasnya.
Isian es teler kedai Oke ini mulai dari mutiara, karamel, alpukat, susu, kacang dan pepaya. “Isiannya sama seperti es teler lainnya di Ponorogo, cuma di sini beda porsi, lebih besar,” tuturnya.
Jika berkesempatan mampir di Kota Ponorogo dan ingin menikmati sajian nan menyegarkan ini, kedai Oke buka mulai pukul 09.00-21.00 WIB.

Jenang Mirah nan Legiiit

Belum lengkap rasanya jika berkunjung ke Ponorogo tidak membawa pulang jajanan manis, legit, dan lembut khas Kota Reyog satu ini, Jenang namanya. Di Ponorogo terdapat banyak rumah produksi jenang. Salah satu jenang legendaris adalah Jenang Mirah, yang terletak di Kecamatan Jetis, sekitar 7 Km dari Alun-alun kota Ponorogo.
Disebut legendaris karena Jenang Mirah ini sudah mulai produksi sejak tahun 1955. Di kota lain, Jenang lebih dikenal dengan nama Dodol. Sedangkan Mirah sebenarnya adalah nama pemilik yang merintis usaha pembuatan jenang di desa Josari, kecamatan Jetis Ponorogo. Penyematan nama Mirah ini akhirnya dijadikan identitas yang membedakan jenang ini dengan produksi jenang rumahan lainnya.
Bahan baku Jenang Mirah adalah bahan-bahan pilihan dengan kualitas baik. Bahan-bahan ini dipasok langsung dari luar kota, bahkan hingga luar pulau Jawa seperti dari pulau Sumatera. Sementara itu, Jenang Mirah dibuat menggunakan resep turun temurun yang masih bertahan hingga sekarang. Komposisi dan takaran pembuatannya juga masih tetap dijaga. Inilah yang membuat cita rasa dan tekstur Jenang Mirah masih tetap melegenda. Cita rasa manis legit yang dimiliki Jenang Mirah bertambah unik karena ada sentuhan aroma sangit yang diperoleh dari proses pemasakan jenang yang menggunakan tungku kayu bakar.
“Dulu itu ada wisatawan Australia, katanya, ini makanan yang dibuat secara tradisional, rasanya lain dengan yang diproduksi oleh pabrik,” cerita Pak Handoko, putra termuda Ibu Mirah.
Terdapat empat jenis jenang yang dijual di Jenang Mirah, yaitu jenang ketan, jenang beras, jenang campur, dan jenang waluh. Menurut Pak Handoko, konsumen lebih banyak berminat membeli jenang campur yang terbuat dari tepung beras dan tepung ketan. Sementara jenang waluh diproduksi hanya saat musim buah waluh tiba. Karena Jenang Mirah termasuk jajanan basah yang tidak menggunakan pengawet sama sekali, maka makanan ini hanya tahan selama 5 hingga 7 hari.
Sebelum mendirikan toko di rumahnya, Ibu Mirah menjajakan jenang produksinya dari pasar satu ke pasar yang lain, juga di kereta-kereta yang saat itu masih beroperasi. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1980-an Ibu Mirah membuka toko kecil untuk melayani para konsumen yang akhirnya berkembang hingga saat ini.
Keberadaan Jenang Mirah membawa berkah tersendiri bagi para tetangga. Pasalnya, outlet Jenang Mirah ini tidak hanya menjual produk olahannya, namun juga menjual produk-produk yang dibuat oleh para tetangga. Selain itu, Jenang Mirah juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya sehingga dengan ini dapat meningkatkan perekonomian warga desa Josari.
Jenang Mirah telah ramai dikenal hingga luar kota, bahkan hingga mancanegara. Tidak heran jika setiap hari outlet Jenang Mirah ramai pengunjung. Terlebih ketika musim liburan dan lebaran tiba, outlet Jenang Mirah pasti dipadati pembeli baik dari dalam maupun luar kota.
Anda bisa mengunjungi pusat oleh-oleh Jenang Mirah yang beralamatkan di Jalan Raya Ponorogo-Trenggalek KM 7, dekat Pondok Modern Gontor Ponorogo.
Jika berkunjung ke Ponorogo, jangan lewatkan membeli jajanan khas Ponorogo ini sebagai buah tangan Anda.

Serabi Kuah Bikin Nambah

Srabi Ponorogo dibuat dari bahan adonan tepung beras yang dicampur santan, encer mirip membuat jenag sumsum hanya di kasih bumbu garam secukupnya untuk membuat gurihnya. Lalu dituang di kereweng yang dipanasi bara api dari arang. Cara penjajianya ditaruh di mangkok dikasih kuah santan dan gula, bagi yang tidak suka manis cuma memakai santan, dan bila tidak suka santan dan manis menggunnakan parutan kelapa muda. Dan paling enak dinikmati ketika panas sambil duduk nongkrong di dekat penjualnya sambi menghangatkan badan di dekat perapian..

Rasanya unik mirip jenang sunsum, namun ada aroma tanah, krispi, gurih. Biasanya disukai oleh anak-anak dan dipakai untuk sarapan pagi, bagi orang-orang tua yang sepulang dari masjid bisa buat sarapan sebelum pulang ke rumah.

Untuk seporsi dihargai 2 ribu terdiri 2 tangkap (2 keping doble, 4 keping), jadi per keping dihargai 500 rupiah, tapi menjualnya 1 tangkap (2 keping).

Gimana ? Makin gak tahan 'kan untuk dateng ke Ponorogo dan icip-icip kulinernya ??

Es Dawet Gempol kian Nampol

PONOROGO — Siang yang terik memang paling pas jika ditemani minuman penghilang dahaga, salah satu minuman khas Ponorogo yakni es dawet gempol. Minuman ini berisi cendol atau dalam bahasa Jawa sering disebut dawet, gula jawa sebagai rasa manis, kuah santan, tape ketan hitam dan tentu saja gempol. Yang berbeda jika biasanya es dawet tidak ada gempolnya, di Ponorogo ada gempolnya. 

Gempol sendiri terbuat dari tepung beras yang diolah dan dibentuk bulat menyerupai bola bekel. Satu porsi es dawet diberi satu bola gempol. Rasa es dawet yang manis, dicampur asamnya tape ketan hitam dipadukan dengan gempol, rasanya sungguh luar biasa.
Penjual Es Dawet Gempol Mak Bing yang terletak di sebelah barat alun – alun Ponorogo ini sudah legendaris. Bagaimana tidak, hingga saat ini sudah ada tiga generasi penerus. Dan masih banyak peminatnya.
“Kami buka sejak tahun 1979, saya sudah generasi ketiga,” jelas Yuni (44 tahun) saat ditemui Cendana News, Sabtu (29/4/2017).

Yuni menerangkan untuk satu porsi es dawet gempol dijual dengan harga Rp6 ribu. Cara penyajiannya berbeda, es dawet disajikan dengan mangkok dan ada piring sebagai alas.
“Kami buka dari jam 08.00-18.00 WIB, paling ramai biasanya saat Sabtu-Minggu atau pas ada acara di alun-alun,” ujarnya.
Selain Es Dawet Mak Bing yang sudah terkenal di Ponorogo, juga ada Es Dawet Gempol Etik yang terletak di Desa Jabung. Jabung memang terkenal sebagai sentra penjual es dawet, namun untuk es dawet gempol masih jarang.
“Di sini setiap rumah pasti jual es dawet, karena memang sentra, tapi yang jual es dawet gempol di Jabung baru saya,” tutur Etik.
Meski baru tiga tahun berdiri, warung es miliknya tidak pernah sepi pembeli. Pasalnya, selain karena es dawet gempol masih jarang, Etik selalu menjaga kualitas rasa es dawetnya.

Rujak Petis Mak Nyus

Kuliner rujak petis, termaknyus di Ponorogo.Warung Bu Tiek. Kalau dulu waktu aku kecil alamat di jalan Welirang, sekarang ada juga warungnya di depan terminal lama Ponorogo. Inilah salah Ponorogo Fast Food. Rujak Petis. Harganya low price banget, Rp 7.000,-  per porsi. Selain rujak petis menu andalan warung Bu Tiek adalah gado-gado. Harganya sama persis. Rp 7.000,- per porsi. Selain rujak petis kita juga bisa menikmati minuman yang segar-segar disini. Untuk minuman berkisar antara harga Rp 2.500,- sampai dengan Rp 4.000,-. Misalnya seperti es beras kencur, es dawet, es blewah harganya dan es cao Rp 3.000,-. Apa itu es cao? Es cao adalah minuman yang terbuat dari kolang kaling yang dicampur dengan juruh alias sirup dan perasan jeruk nipis. Sirupnya ini dibuat khusus dari gula merah atau kadang gula putih yang diberi warna merah. Wah, jadi haus membayangkannya. Jadi bawa uang Rp 10.000,- sudah kenyang makan disini. Hehe. Padahal kalau makan rujak petis di Jakarta per porsinya kisaran Rp 16.000,- sampai Rp 20.0000,- 
Dan kuliner yang paling dasyat berikutnya adalah menikmati masakan Ibuku dan Ibu Mertuaku. Jangan Terong (baca : sayur lodeh terong), sambel bawang tempe, sego goreng, perkedel tahu. Hmm, enak banget, limited edition (karena khusus dibuat untuk anaknya), dan gratis.

Selasa, 05 September 2017

Sate Legendaris Ponorogo

Saat berkunjung ke Ponorogo, pasti yang pertama kali terfikirkan adalah Dadak Merak atau biasa disebut Reyog. Namun, ada salah satu dari sekian banyak Kuliner Ponorogo yang menjadi sorotan banyak kalangan, yaitu Sate Ponorogo. Sate Ponorogo adalah jenis sate yang daging ayamnya sendiri sangat empuk dan bumbunya meresap. Sate Ponorogo berbeda daripada Sate Madura yang populer. Perbedaannya adalah pada cara memotong dagingnya. Dagingnya tidak dipotong menyerupai dadu seperti sate ayam pada umumnya, melainkan disayat tipis panjang menyerupai fillet, sehingga selain lebih empuk, gajih atau lemak pada dagingnya pun bisa disisihkan. Sate daging ayam dapat disajikan bersama dengan sate usus, kulit, dan telur ayam muda. Perbedaan berikutnya adalah sate Ponorogo melalui proses perendaman bumbu (di"bacem") agar bumbu meresap ke dalam daging. Sate daging, usus, dan kulit dibumbui dengan bumbu kecap dan minyak sayur.
Setelah bumbunya merata, sate dipanggang di atas pemanggang sate selama kurang lebih 3-5 menit. Alat pemanggang sate Ponorogo terbuat dari tungku (panggangan) yang terbuat dari tanah liat. Panggangan ini memiliki lubang di satu sisi untuk mengipas bara arang didalamnya. Setelah berwarna kecoklatan, semua sate diletakkan di atas piring untuk dibumbui lagi dengan Bumbu Spesial. Setelah matang, sate dilumuri dengan bumbu kacang yang ditumbuk halus.
Sulit menemui restoran atau penjual Sate Ayam Ponorogo di luar kota asalnya di Jawa Timur ini, selain belum tentu menemui kesamaan cita rasa aslinya. Meskipun demikian beberapa warung atau restoran yang menyajikan sate Ponorogo dapat ditemukan di Surabaya dan Jakarta.
Nah, gimana ? Makin tertarik bukan, untuk semakin mengeksplor Ponorogo dan mencicipi Kulinernya...