• This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Tampilkan postingan dengan label Makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 September 2017

Jenang Mirah nan Legiiit

Belum lengkap rasanya jika berkunjung ke Ponorogo tidak membawa pulang jajanan manis, legit, dan lembut khas Kota Reyog satu ini, Jenang namanya. Di Ponorogo terdapat banyak rumah produksi jenang. Salah satu jenang legendaris adalah Jenang Mirah, yang terletak di Kecamatan Jetis, sekitar 7 Km dari Alun-alun kota Ponorogo.
Disebut legendaris karena Jenang Mirah ini sudah mulai produksi sejak tahun 1955. Di kota lain, Jenang lebih dikenal dengan nama Dodol. Sedangkan Mirah sebenarnya adalah nama pemilik yang merintis usaha pembuatan jenang di desa Josari, kecamatan Jetis Ponorogo. Penyematan nama Mirah ini akhirnya dijadikan identitas yang membedakan jenang ini dengan produksi jenang rumahan lainnya.
Bahan baku Jenang Mirah adalah bahan-bahan pilihan dengan kualitas baik. Bahan-bahan ini dipasok langsung dari luar kota, bahkan hingga luar pulau Jawa seperti dari pulau Sumatera. Sementara itu, Jenang Mirah dibuat menggunakan resep turun temurun yang masih bertahan hingga sekarang. Komposisi dan takaran pembuatannya juga masih tetap dijaga. Inilah yang membuat cita rasa dan tekstur Jenang Mirah masih tetap melegenda. Cita rasa manis legit yang dimiliki Jenang Mirah bertambah unik karena ada sentuhan aroma sangit yang diperoleh dari proses pemasakan jenang yang menggunakan tungku kayu bakar.
“Dulu itu ada wisatawan Australia, katanya, ini makanan yang dibuat secara tradisional, rasanya lain dengan yang diproduksi oleh pabrik,” cerita Pak Handoko, putra termuda Ibu Mirah.
Terdapat empat jenis jenang yang dijual di Jenang Mirah, yaitu jenang ketan, jenang beras, jenang campur, dan jenang waluh. Menurut Pak Handoko, konsumen lebih banyak berminat membeli jenang campur yang terbuat dari tepung beras dan tepung ketan. Sementara jenang waluh diproduksi hanya saat musim buah waluh tiba. Karena Jenang Mirah termasuk jajanan basah yang tidak menggunakan pengawet sama sekali, maka makanan ini hanya tahan selama 5 hingga 7 hari.
Sebelum mendirikan toko di rumahnya, Ibu Mirah menjajakan jenang produksinya dari pasar satu ke pasar yang lain, juga di kereta-kereta yang saat itu masih beroperasi. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1980-an Ibu Mirah membuka toko kecil untuk melayani para konsumen yang akhirnya berkembang hingga saat ini.
Keberadaan Jenang Mirah membawa berkah tersendiri bagi para tetangga. Pasalnya, outlet Jenang Mirah ini tidak hanya menjual produk olahannya, namun juga menjual produk-produk yang dibuat oleh para tetangga. Selain itu, Jenang Mirah juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya sehingga dengan ini dapat meningkatkan perekonomian warga desa Josari.
Jenang Mirah telah ramai dikenal hingga luar kota, bahkan hingga mancanegara. Tidak heran jika setiap hari outlet Jenang Mirah ramai pengunjung. Terlebih ketika musim liburan dan lebaran tiba, outlet Jenang Mirah pasti dipadati pembeli baik dari dalam maupun luar kota.
Anda bisa mengunjungi pusat oleh-oleh Jenang Mirah yang beralamatkan di Jalan Raya Ponorogo-Trenggalek KM 7, dekat Pondok Modern Gontor Ponorogo.
Jika berkunjung ke Ponorogo, jangan lewatkan membeli jajanan khas Ponorogo ini sebagai buah tangan Anda.

Serabi Kuah Bikin Nambah

Srabi Ponorogo dibuat dari bahan adonan tepung beras yang dicampur santan, encer mirip membuat jenag sumsum hanya di kasih bumbu garam secukupnya untuk membuat gurihnya. Lalu dituang di kereweng yang dipanasi bara api dari arang. Cara penjajianya ditaruh di mangkok dikasih kuah santan dan gula, bagi yang tidak suka manis cuma memakai santan, dan bila tidak suka santan dan manis menggunnakan parutan kelapa muda. Dan paling enak dinikmati ketika panas sambil duduk nongkrong di dekat penjualnya sambi menghangatkan badan di dekat perapian..

Rasanya unik mirip jenang sunsum, namun ada aroma tanah, krispi, gurih. Biasanya disukai oleh anak-anak dan dipakai untuk sarapan pagi, bagi orang-orang tua yang sepulang dari masjid bisa buat sarapan sebelum pulang ke rumah.

Untuk seporsi dihargai 2 ribu terdiri 2 tangkap (2 keping doble, 4 keping), jadi per keping dihargai 500 rupiah, tapi menjualnya 1 tangkap (2 keping).

Gimana ? Makin gak tahan 'kan untuk dateng ke Ponorogo dan icip-icip kulinernya ??

Rujak Petis Mak Nyus

Kuliner rujak petis, termaknyus di Ponorogo.Warung Bu Tiek. Kalau dulu waktu aku kecil alamat di jalan Welirang, sekarang ada juga warungnya di depan terminal lama Ponorogo. Inilah salah Ponorogo Fast Food. Rujak Petis. Harganya low price banget, Rp 7.000,-  per porsi. Selain rujak petis menu andalan warung Bu Tiek adalah gado-gado. Harganya sama persis. Rp 7.000,- per porsi. Selain rujak petis kita juga bisa menikmati minuman yang segar-segar disini. Untuk minuman berkisar antara harga Rp 2.500,- sampai dengan Rp 4.000,-. Misalnya seperti es beras kencur, es dawet, es blewah harganya dan es cao Rp 3.000,-. Apa itu es cao? Es cao adalah minuman yang terbuat dari kolang kaling yang dicampur dengan juruh alias sirup dan perasan jeruk nipis. Sirupnya ini dibuat khusus dari gula merah atau kadang gula putih yang diberi warna merah. Wah, jadi haus membayangkannya. Jadi bawa uang Rp 10.000,- sudah kenyang makan disini. Hehe. Padahal kalau makan rujak petis di Jakarta per porsinya kisaran Rp 16.000,- sampai Rp 20.0000,- 
Dan kuliner yang paling dasyat berikutnya adalah menikmati masakan Ibuku dan Ibu Mertuaku. Jangan Terong (baca : sayur lodeh terong), sambel bawang tempe, sego goreng, perkedel tahu. Hmm, enak banget, limited edition (karena khusus dibuat untuk anaknya), dan gratis.

Selasa, 05 September 2017

Sate Legendaris Ponorogo

Saat berkunjung ke Ponorogo, pasti yang pertama kali terfikirkan adalah Dadak Merak atau biasa disebut Reyog. Namun, ada salah satu dari sekian banyak Kuliner Ponorogo yang menjadi sorotan banyak kalangan, yaitu Sate Ponorogo. Sate Ponorogo adalah jenis sate yang daging ayamnya sendiri sangat empuk dan bumbunya meresap. Sate Ponorogo berbeda daripada Sate Madura yang populer. Perbedaannya adalah pada cara memotong dagingnya. Dagingnya tidak dipotong menyerupai dadu seperti sate ayam pada umumnya, melainkan disayat tipis panjang menyerupai fillet, sehingga selain lebih empuk, gajih atau lemak pada dagingnya pun bisa disisihkan. Sate daging ayam dapat disajikan bersama dengan sate usus, kulit, dan telur ayam muda. Perbedaan berikutnya adalah sate Ponorogo melalui proses perendaman bumbu (di"bacem") agar bumbu meresap ke dalam daging. Sate daging, usus, dan kulit dibumbui dengan bumbu kecap dan minyak sayur.
Setelah bumbunya merata, sate dipanggang di atas pemanggang sate selama kurang lebih 3-5 menit. Alat pemanggang sate Ponorogo terbuat dari tungku (panggangan) yang terbuat dari tanah liat. Panggangan ini memiliki lubang di satu sisi untuk mengipas bara arang didalamnya. Setelah berwarna kecoklatan, semua sate diletakkan di atas piring untuk dibumbui lagi dengan Bumbu Spesial. Setelah matang, sate dilumuri dengan bumbu kacang yang ditumbuk halus.
Sulit menemui restoran atau penjual Sate Ayam Ponorogo di luar kota asalnya di Jawa Timur ini, selain belum tentu menemui kesamaan cita rasa aslinya. Meskipun demikian beberapa warung atau restoran yang menyajikan sate Ponorogo dapat ditemukan di Surabaya dan Jakarta.
Nah, gimana ? Makin tertarik bukan, untuk semakin mengeksplor Ponorogo dan mencicipi Kulinernya...