• This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Minggu, 10 September 2017

Gelar Budaya Tahunan Ponorogo

Sepanjang jalan aloon-aloon utara tepatnya seputaran paseban dan sepanjang jalan aloon-aloon Timur serta sepanjang jalan P.B.Jendral Sudirman hingga finish di jalan Suromenggolo dipadati ribuan pengunjung baik dari wilayah Ponorogo sendiri maupun dari daerah kabupaten lain yang ingin menyaksikan tradisi budaya dan seni yang digelar di kota yang kaya akan seni dan  budaya Ponorogo ini.

Gelar budaya ke IX yang banyak menampilkan atraksi atraksi seni dari berbagai daerah baik dari kabupaten Ponorogo sendiri maupun dari kabupaten lain diantaranya Madiun, Gunung Kidul dan lainnya. Secara resmi acara tersebut dibuka oleh bupati Ponorogo. H.Ipung Muchlissoni didampingi wakil bupati dan jajaran Forpimda kabupaten Ponorogo.

Dalam sambutannya Ipong menyampaikan bahwa gelar budaya ini merupakan rangkain dari peringatan hari jadi kabupaten Ponorogo, gelar budaya ini tidak sekedar hanya rangkaian tetapi menjadi wujud bahwa Ponorogo banyak memiliki potensi seni budaya, tidak hanya reog tetapi kita juga memiliki potensi seni budaya yang lain yang tidak kalah hebat seperti misalnya seni odrot yang model dan cara berpakaiannya mengingatkan pada zaman colonial Belanda. “Mudah mudahan dengan diselenggarakannya gelar budaya ini menambah semangat dan motifasi kawan kawan kita, teman teman kita seniman seniwati untuk terus berkarya dan berkesenian” tutur ipong mengakhiri sambutannya dan sekaligus membuka acara tersebut dengan ditandai penyerahan pecut Samandiman dari Klono Sewandono kepada beliau.

Inilah kota Ponorogo yang selalu menjadi perhatian dan keinginan masyarakat serta daerah lain untuk berkunjung dalam setiap tahunnya untuk menyaksikan agenda gelar dan apresiasi seni dan budaya.

Larung Sesaji di Telaga Ngebel

Ponorogo, kota Kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Timur. Disanalah terletak Ngebel sebuah kecamatan seluas 6 ribuan kilometer persegi. Letak persisnya ada di kaki Gunung Wilis. Perlu 1 1/2 jam berkendaraan dari pusat kota kabupaten. Inilah Telaga Ngebel. Tapi siapa sangka, telaga indah ini punya citra angker bagi warga setempat. Entah sudah berapa banyak orang yang tenggelama di sini. 
Pada malam 1 Suro yang dalam penanggalan Islam berarti 1 Muharam, ada sebuah ritual tahunan disebuah telaga yang dipercaya sering mengambil korban jiwa. Perjalanan berliku mengelilingi gunung dan bukit merupakan suasana yang menyegarkan. Indahnya alam di Ngebel semakin lengkap bila memandang telaganya.
 
Perahu rekreasi yang dulu pernah ada kerap tenggelam dan rusak saat melintasi telaga. Mau tidak mau, sejumlah peristiwa itu kian menguatkan angkernya sang telaga. Ingin tahu lebih lengkap, tim Teropong pun diantar Anam Ardiansyah, budayawan asal Ponorogo menemui Mbah Budiharjo yang tinggal di tepi telaga. Warga setempat menyapanya Mbah Budi. Ia adalah penduduk asli Ngebel yang dianggap tahu banyak mengenai mitos di Telaga Ngebel.
Konon, telaga ini muncul sebagai ekses kemarahan seorang pemuda miskin bernama Baru Klinting yang sering diejek penduduk sekitar yang arogan. Klinting sendiri sebetulnya manusia jelmaan seekor naga yang dibunuh warga setempat untuk konsumsi pesta rakyat.

Kedatangan Klinting yang seperti pengemis memicu kemarahan warga yang jijik melihat penampilan sang pemuda. Hanya Nyai Latung yang berbaik hati padanya. Sang pengemis pun marah dengan kesaktiannya ia menenggelamkan seluruh desa. Hanya Nyai Latung yang selamat. Air bah itulah yang kini dikenal sebagai Telaga Ngebel. Sejak itu pula, beragam bencana dan musibah terus-terusan mendera Ngebel. Dari mulai musim paceklik, gagal panen hingga wabah penyakit. Bencana yang selalu datang hingga kini. Ada 4 lokasi keramat yang sering diberi sesaji oleh masyarakat.

Diantaranya Gua Kumambang yang sekarang terendam air dan Gua Nyai Latung serta Bebong. Mitos Ngebel juga terkait dengan sesepuh Reog Ponorogo Raden Batoro Katong. Ketempat petilasannya inilah sekarang Kami menuju. Batoro Katong yang merupakan putra Raja Brawijaya ke V pernah bersembunyi dari kejaran musuh dan bertapa disalah satu gua yang ada di tepi telaga. Tempat Batoro Katong singgahpun jadi keramat. Bahkan bila salah satu warga Ngebel punya keinginan tertentu, ia melakukan tirakatan dan memberi sesaji di tempat ini. Bila malam Jumat tiba, Telaga Ngebel ramai oleh beragam sesaji dari mereka yang percaya. Puncaknya adalah saat malam 1 Suro. 

 Sagun Yang Tangguh

Pagi menjelang malam 1 Suro saat udara sedingin es, warga Ngebel mengadakan upacara qurban. Seekor kambing dengan bulu warna putih tidak putus melingkar bagian tengah tubuhnya atau yang disebut dengan kambing kedit akan disembelih. Darah kambing yang ditampung di kain putih ini dihanyutkan ke muara telaga. Sang kepala akan dilarung ke telaga nanti malam dan kaki kambing akan ditanam di empat tempat keramat. Sementara itu seorang warga bernama Sagun akan mengemban tugas penting. Ialah pembawa sesaji ke tengah telaga dalam ritual yang akan berlangsung nanti malam.Konon, tidak sembarang orang bisa membawa dan berenang menghayutkan sesaji ke tengah telaga.

Sagun sendiri mengaku tidak punya ilmu penangkal apapun selain mahir berenang. Lelaki tiga anak ini sehari-harinya bekerja sebagai pengawas pengairan di Ngebel. Bila ada orang yang tenggelam di Ngebel, biasanya Sagun yang diminta mencari. Tak heran ia terus dipercaya sebagai pembawa larungan sesaji.Malam 1 Suro, Kami pun kembali menuju telaga. Larung sesaji akan berlangsung malam ini. Disepanjang jalan menuju Telaga Ngebel, warga memasang obor sebagai penerangan jalan. Tradisi menyalakan obor saat malam 1 Suro ini sudah berlangsung lama. Menambah suasana mistis yang sudah terasa sejak pagi.

Akhirnya, Kami sampai di aula kecamatan tempat larung akan dimulai. Sekitar 40 sesepuh dan dukun Ngebel berkumpul di aula kecamatan. Mereka akan tirakatan. Dalam acara ini, sejenis matra Jawa kuno dibaca bersama-sama. Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan tradisi larung saji di Ngebel ini berlangsung. Yang jelas, sang telaga seperti tak jera meminta korban jiwa. Seusai tirakatan, saatnya menuju danau. Penerangan yang digunakan seadanya menambah aroma gaib di tempat ini. Apalagi udara sangat dingin. Tapi semua itu tidak menyurutkan langkah para sesepuh untuk mengelilingi danau menanam 4 potongan kaki di tempat-tempat keramat.

Dalam waktu hampir bersamaan, upacara larung sesaji segera dimulai. Potongan kepala kambing yang sudah dimasak dijadikan sesaji, dihanyutkan ke tengah telaga dibawa Sagun sang pembawa. Malam yang gelap membuat pandangan ke tengah telaga tidak begitu jelas. Semua yang hadir malam ini menanti kepulangan Sagun. Sagun memang tangguh, tak lama ia pun kembali. Padahal selain ada kisah angker yang membayangi, air di telaga sungguh amat dingin. Usai larung sesaji kembali diadakan doa bersama sebagai ungkapan syukur. Besok pagi akan digelar kembali larung sesaji, tapi dengan nuansa berbeda.

Mengapa Ada Larung Lagi
                                                                                  
Pagi hari 1 Suro atau 1 Muharam larungan kembali digelar. Tapi yang ini lebih sebagai modifikasi yang dilakukan pihak pemerintah daerah setempat. Dalam perkembangannya, larung sesaji yang penuh aroma gaib memang menjadi kontroversi di masyarakat Ponorogo. Sebagai kota santri yang hampir seluruh penduduknya pemeluk Islam, larung sesaji dianggap tidak relevan dengan ajaran Islam.

Tapi disisi lain, larung sesaji sudah jadi tradisi yang melekat pada warga setempat. Pemerintah Daerah setempat kemudian berinisiatif memodifikasinya dengan larung berisalah doa. Ini juga sebagai salah satu upaya Pemda untuk menarik wisatawan datang ke Ngebel. Karena Ngebel yang kaya potensi wisatanya ini jarang jadi tempat tujuan wisata. Kebanyakan sudah ketakutan dulu bila mendengar mitos Ngebel. Kalau melihat jumlah pengunjung yang datang menyaksikan larungan pag ini, upaya itu cukup berhasil. Dari sisi prosesi, larung risalah mirip dengan larung sesaji yang dilakukan malam hari.

Perbedaannya ada pada jenis sesaji dan doa. Pada larung risalah ini ukuran sesajinya jauh lebih besar. Terbuat dari beras dan bahan makanan lainnya.
Nuansanya pun tidak seperti tadi malam. Mungkin karena yang hadir saat ini jauh lebih banyak. Bahkan Kami bisa ikut naik ke atas perahu mengiringi sang pembawa sesaji.
Dalam larung risalah, sesajian ini diperuntukan bagi hewan penghuni telaga seperti ikan. Selain sesaji, ikut ditenggelamkan juga kota berisi doa keselamatan kedasar telaga. Tujuannya meminta keselamatan dan perlindungan Tuhan.
Seiring dengan tenggelamnya sesaji, usai sudah ritual tahunan di Ngebel. Tak lama lagi telaga ini akan kembali tenang, kembali ditakuti. Tapi mungkin, mitos ini jugalah yang melindungi keberadaan Telaga Ngebel yang keindahannya terjaga hingga kini.
 
Nah, makin dikulik makin menarik aja kota kita yang satu ini.. Jangan ragu-ragu lagi buat dateng dan eksplor langsung ke Ponorogo ya gengss...!

Festival Reyog Mini

Kali ini, tamu undangan dan masyarakat Ponorogo langsung disuguhi penampilan peserta Festival Reog Mini (FRM). Walaupun hanya dua penampil yang memeriahkan acara pembukaan HUT Ponorogo.

Uniknya juga ada warog bule yang diboyong oleh MTsN Sampung. Warok bule tersebut juga ikut menari pada FRM.

Tidak hanya penampilan peserta FRM. Warga Ponorogo yang rela melihat dari luar juga disuguhi pesta kembang api, pertanda di bukanya HUT Kabupaten Ponorogo ke 520.

Sementara, Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, mengatakan, dengan adanya FRM berarti ada regenerasi reog. "Setidaknya ada yang bisa meneruskan menari reog," katanya.

Apalagi, lanjut dia, melihat kesenian reog yang pernah dicaplok Malaysia. Ipong menuturkan setidaknya generasi sekarang sudah bisa.

"Mereka yang akan menggantikan yang sudah harus pensiun sebagai penari reog," pungkasnya. 

Menurut kalian gimana ? Makin menarik bukan pembahasan kita tentang Kota Reyog ini. Daripada makin penasaran langsung datang aja ke Kota Ponorogo...!

Grebeg Suro

PONOROGO, – Untuk pertama kalinya atau berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dua even terbesar kota Ponorogo, akan digabung menjadi satu even. Dua even pesta rakyat terakbar Ponorogo dimaksud, adalah Peringatan Hari Jadi dan Grebeg Suro. Sebagaimana rilis jadwal kegiatan dua even tersebut yang telah dikeluarksn dan diekspose Dinas Parawisata Ponorogo dua even itu akan dilaksanakan periode bulan September ini tanpa jeda antar kedua even.
“Memang betul, peringatan Hari Jadi dan Grebeg Suro tahun ini akan dijadikan satu di bulan September mendatang. Dimana tentunya nanti dari pembukaan hingga penutupan acara ya jadi satu juga,” terang Kepala Dinas Parawisata Ponorogo, drh. Sapto Djatmiko, MM, kepada beberapa awak media siang ini, Selasa, (11/07) di ruangannya.

Dilanjutkannya bahwa acara pembukaan dilaksanakan pada 12 September 2017. Sedang penutupan pada tanggal 21 September.
“Acara utama peringatan Hari Jadi, yaitu Festival Reyog Mini akan diselenggarakan selama tiga hari 12-14 September. Yang langsung dilanjutkan dengan Festival Nasional Reyog Ponorogo, esoknya selama lima hari. Dari tanggal 15 sampai 19 September. Jadi festival aksn berlangsung selama hampir sepuluh hari berturut turut di panggung utama,” Tambah Sapto Djatmiko.

Diterangkan juga, bahwa prnggabungan ini dimaksudkan untuk penghematan anggaran. Dimana jika biasanya anggaran kedua even tersebut mencapai,Rp. 2,3 Milyard atau tahun lalu Rp. 1,8 Milyar tahun ini dipangkas lagi tinggal sekitarRp. 1,3 Milyar saja.

Walau demikian, Sapto berharap agar kemeriahan pesta rakyat Ponorogo ini bisa tetap berjalan lancar dan spektakuker. Ramai dikunjungi masyarakat hingga wisatawan. Karena tetap disertai beberapa acara pendukung, seperti kirab pusaka, pemilihan Genduk Thole Ponorogo, hingga Larungan Risalah dan Doa dinTelaga Ngebel. Serta beberapa pamean dan lomba.

Es Dawet Jabung (nTabss)

DAWET sudah jamak dikenal masyarakat Indonesia. Namun, dawet jabung yang ada di Desa Jabung, Ponorogo ini memiliki daya tarik berbeda. Nama yang diambil dari asal desa, menjadi sorotan masyarakat dari berbagai kota, di sekitar Ponorogo. 
“Rasanya memang beda dengan dawet-dawet umumnya. Dan uniknya, nama minuman ini sesuai dengan desanya, Desa Jabung,” ungkap pembeli rombongan dari Tulungagung.

 Satu mangkok dawet jabung dijual dengan harga murah meriah, Rp 2.500. Kombinasi dawet jabung berupa, cendol (dari bahan dasar pati garut), ketan merah, gempol (dari tepung beras berbentuk bulat), bubur sum-sum (dari bahan tepung beras), ditambah potongan nangka sebagai ciri khas untuk mempercantik dan menambah citarasa dawet. 

Warung dawet jabung, setiap hari selalu ramai dengan pembeli dari berbagai kota. Mulai dari pembeli yang mampir karena kehausan, ada juga karena penasaran dengan citarasanya, dan pembeli yang ketagihan. Siapapun yang melakukan perjalanan dan kebetulan melewati kawasan dawet jabung, pasti melakukan ritual menjamu dahulu.

Tidak disangkal lagi, dawet jabung selain memberikan citarasa yang berbeda, serta harga yang ditawarkan ramah di kantong, tidak salah jika disebut minuman khas Ponorogo.
Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak berkunjung di warung dawet jabung. Salah satunya warung dawet jabung Bu Yati yang berokasi di depan pasar Gandu, Jabung, Ponorogo.
Nah, tunggu apalagi? Jika bingung liburan akhir pekan, sempatkan berkunjung ke Ponorogo karena nikmatnya dawet jabung siap melelehkan lidah.

Kamis, 07 September 2017

Gowa Lowo Sampung Ponorogo

Wisata Alam Goa Lowo Sampung Ponorogo

Wisata alam goa lowo merupakan sebuah tempat wisata goa. Dalam goa tersebut saat ini kondisinya gelap, belum ada penerangan. Mungkin akan lebih baik jika dipoles untuk dijadikan objek wisata yang lebih terurus. Apalagi letaknya berada di jalur alternatif Ponorogo-magetan, bahkan Jawa TImur-Jawa tengah.

Kabupaten Ponorogo Propinsi Jawa Timur merupakan salah satu tempat yang cukup kaya akan budaya dan pariwisata. Diantaranya ada pariwisata alam Ngebel, Pariwisata Air terjun, sampai wisata religi yang cukup menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Wisata alam Goa Lowo adalah salah satu diantara wisata alam di Ponorogo. Dan mengenai biaya masuk wisata tidak dibandrol biaya sepeserpun.

Letak goa lowo Sampung Ponorogo

Goa lowo terletak di Desa Sampung, Kecamatan Sampung kabupaten Ponorogo. Sekitar 7 menit dari pusat kecamatan Sampung. Goa lowo terletak di tengah hutan. Dari jalan raya sekitar 1 Kilo Meter menuju kearah barat.
Akses jalan menuju ke goa dari kota Ponorogo menuju kea rah barat. Kemudian sampai sumoroto ambil kanan menuju ke Sampung, tepatnya menuju ke arah kecamatan sampung. Ikuti rambu di tepi jalan. Ikuti terus sekitar 20 menit.

Telaga Ngebel

Suasana Sejuk Sangat Terasa Ketika Memasuki Area Telaga
Telaga Ngebel merupakan danau yang terbertuk dari Alam dan lokasi dan letak dari Telaga Ngebel adalah di kaki gunung wilis, lebih tepatnya di Desa Ngebel, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Telaga Ngebel ini tidak jauh dari pusat kota Ponorogo yaitu sekitar 30 Km. Letaknya yang strategis di kaki Gunung Wilis membuat Telaga Ngebel dipadati wisatawan ketika musim liburan.

Telaga Ngebel sendiri memiliki luas kurang lebih 5 Km dengan suhu rata-rata 20-26 Derajat Celcius. Telaga Ngebel merupakan salah satu obyek wisata andalan Pemkab Ponorogo. Pada moment tertentu sering diadakan acara larung sesaji di Telaga tersebut. Tujuan digelarnya upacara larung sesaji semata-mata demi kepentingan promosi pariwisata. Berkunjung ke telaga berhawa sejuk sekitar 20 derajat Celsius itu akan melewati jalan sedikit menanjak dan berkelok-kelok.

Pemandangan sepanjang perjalanan juga mengasyikkan. Anda harus berhati-hati karena lebar jalan yang relatif sempit dan di sisinya terdapat jurang. Memasuki pintu gerbang sekaligus pembelian tiket seharga Rp4.000 per orang suasana sejuk mulai terasa. Anda bisa memilih berkeliling telaga terlebih dahulu sebelum menikmati berbagai suguhan pendukung objek wisata itu. Setelah mengitari pinggiran telaga dengan ciri kedalaman airnya berbentuk V atau cekungan dalam di bagian tengah itu, Anda bisa beristirahat untuk menikmati pamandangan air yang tampak lebih indah jika mendapat sinar mentari.

Anda bisa berfoto-foto dengan latar belakang perpaduan air dan hijaunya tebing yang mengelilingi. Atau jika Anda beruntung bisa memandukan latar belakang dengan birunya awan. Puas berfoto, Anda bisa menikmati sajian kuliner dengan lauk ikan air tawar yang dihasilkan dari telaga tersebut. Terdapat puluhan warung berbagai jenis di pinggir telaga itu. Selain itu, Anda juga bisa menikmati wisata air dengan menaiki perahu bebek atau bus air di telaga tersebut. Berputar-putar di telaga itu dapat dilakukan bersama-sama karena dalam satu perahu bisa diisi beberapa orang. Tarif perahu per orang Rp5.000 atau bisa sewa atau satu perahu Rp50.000.

Objek wisata Telaga Ngebel ini tak lepas dari sebuah cerita yang di hubungkan dengan terbentuknya telaga ini, dalam cerita tersebut menyebutkan adanya seekor ular yang merupakan jelmaan Patih Bantaran Angin yang bernama Baru Klinting. Pada awalnya Patih Bantaran Angin sedang bermeditasi dengan berwujud seekor ular dan ada seorang yang tak sengaja membawa ular tersebut ke desa dan pada saat sampai di desa ular tersebut berubah menjadi seorang anak kecil. Singkat cerita, anak tersebut membuat sayembara dengan menancapkan sebuah batang lidi ke tanah, danan menyuruh warga desa mencabut batang tersebut namun tidak ada yang bisa mencabutnya dan yang bisa mencabut hanyalah anak kecil yang menancapkan tadi, dari lubang tersebut muncul sumber air yang menggenang hingga terbentuk menjadi sebuah Telaga. Masyarakat di sana menyebutnya sebagai danau atau Telaga Ngebel, yang berarti telaga dengan aroma menyengat.

Jika Anda berwisata ke Telaga Ngebel, tidak perlu repot bagi yang ingin menginap dan menikmati suasana malam di Telaga Ngebel apalagi bagi pengunjung yang berasal dari luar daerah, karena ada beberapa penginapan yang ada di sekitar Telaga Ngebel. Rute untuk menuju Wisata Telaga Ngebel sangat mudah di jangkau, walaupun ada angkutan umum yang mengarah kesana tapi alangkah enaknya jika kesana menggunakan Mobil/Motor Pribadi. Dari arah kota Ponorogo Anda bisa menuju arah timur dengan rute Kota Ponorogo, Jenangan, Ngebel dan kita bisa melihat Papan Penunjuk yang banyak terpasang di jalan raya dan tidak akan susah menuju Telaga Ngebel. Dan juga bisa dengan rute Madiun, Dolopo, Ngebel.

Nah, gimana ?? Daripada makin penasaran sama pernak perniknya Kota Reyog ini, mending langsung dateng aja ke Ponorogo, terus Cuzzz deh ke Telaga Ngebel...